Jumat, 02 Juli 2010

PENGARUH ASAP ROKOK TERHADAP OTAK

Hampir semua orang termasuk para perokok, masih menganggap remeh pengaruh asap rokok terhadap kesehatan, terutama bahaya terhadap penyakit kanker paru-paru dan jantung koroner. Kebanyakan perokok hanya merasakan kesenangan sesaat setelah merokok, seperti mampu membuka mata sepanjang malam, kepala terasa ringan, dan dapat memfokuskan diri pada pekerjaan.

Tapi benarkah rokok membawa dampak positif ? Jawabannya adalah tidak. Perkiraan itu hanya ilusi pada perokok saja. Selama 10 detik asap rokok melewati jalur pernafasan, nikotin juga melewati aliran darah, menembus pelindung otak dan merusak sel-sel penerima rangsangan (neuron) di otak, sehingga mengganggu fungsi penerimaan sinyal-sinyal kimiawi tubuh termasuk adrenalin dan non-adrenalin. Inilah yang menyebabkan perokok berdebar-debar dan mempercepat aliran darah dalam otak.

Rokok membawa pengaruh yang cukup besar terhadap gelombang elektrik di otak. Gelombang Alpha yang mulanya non aktif berubah aktif begitu seseorang menghabiskan rokok pertama, sehingga mampu membuka mata sepanjang malam. Sedangkan gelombang Delta dan Teta yang bertugas meningkatkan emosi, daya kreasi, dan kemampuan berpikir akan melemah. Untuk gelombang Beta juga terganggu dengan terlihatnya kesulitan berkonsentrasi dan melemahnya mental perokok

Dalam 10 kali tarikan nafas rokok pertama, perokok akan merasa mendapat kekuatan baru dan kepala terasa ringan, karena beban berkurang. Para perokok boleh saja berpendapat demikian, karena mereka baru saja menyelesaikan satu periode bagaimana nikotin “merampas” otak perokok. Selama 30 menit, pengaruh nikotin mulai menghilang dan perokok akan merasakan energi yang didapatkan tadi berkurang sedikit demi sedikit. Dan kemudian terangsang untuk menyalakan rokok kedua, dan sekali lagi akan mendapatkan kenikmatan semu kedua yang sedikit berbeda dengan yang pertama.

Dalam hal ini nikotin mempengaruhi kadar kimiawi dalam otak, dimana di satu sisi nikotin bisa memuaskan, di lain sisi mematikan sel-sel otak.

Tiga puluh menit berlalu, perokok akan semakin hanyut dalam pekerjaan bersama pengaruh nikotin rokok yang dihisapnya. Perhatian perokok semakin tidak lepas dari pak rokok di saku




atau di meja kerjanya. Para perokok sebenarnya merasakan nikotin lebih daripada kenikmatan sekelompok orang penggemar coklat.

Nikotin akan mendorong sel-sel otak untuk menumbuhkan semakin banyak penerima rangsang nikotin. Ini menyebabkan otak tidak berfungsi alamiah, dimana seharusnya sel-sel otak berfungsi dalam penerimaan sinyal kimiawi tubuh secara normal. Akibatnya para perokok merasa “normal” saja ketika nikotin memenuhi otak dan justru merasa tidak normal jika tidak demikian. Tidak sulit untuk menumbuhkan kecanduan rokok pada seseorang. Hanya membutuhkan waktu beberapa jam saja.

Nikotin juga menyebabkan kekacauan mental. Gejalanya dimulai dengan kecemasan, mudah tersinggung, frustasi, mudah marah, kegelisahan, susah tidur, detak jantung melemah, dan selera makan berkurang. Oleh karena itu tidak perlu heran kalau kita melihat para pecandu rokok merasa lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Seseorang yang sudah kecanduan rokok akan terus menyalakan rokok berikutnya dan berikutnya secara spontan.

Selain nikotin, rokok juga mengandung CO (karbon monoksida). Gas ini berbahaya, karena mengikat oksigen 200 kali lebih kuat dari hemoglobin, sel dalam darah yang bertugas mengikat oksigen. Jika CO dalam jumlah besar mengikat oksigen, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya terhadap hemoglobin, tentunya tidak berfungsi karena terdesak oleh CO. Kondisi ini akan memperlambat reaksi dan memperlemah fisik serta mental seseorang.

Seorang psikolog, George Spilich, melakukan tes terhadap 2 kelompok orang, yaitu kelompok yang bukan perokok dan kelompok perokok, Hal ini dilakukan dalam rangka ingin membuktikan pendapat banyak orang bahwa merokok dapat menolong berpikir dan berkonsentrasi. Tes ini dilakukan melalui aktifitas pekerjaan sehari-hari, yaitu mengendarai mobil, kecepatan mengetik, kecepatan menyelesaikan program dengan komputer.

Berdasarkan tes yang dilakukannya, seorang perokok cukup memadai dalam banyak pekerjaan selama belum mengalami gangguan berarti akibat merokok. Seorang perokok dapat mengendarai mobil sejauh yang biasa dilakukan dalam rutinitasnya. Tetapi dalam kecepatan tinggi, tidak dapat dijamin keselamatan mereka sebaik yang dilakukan oleh orang yang tidak merokok.

Seorang pilot dapat mengemudikan pesawat sambil merokok. Tetapi bila ada problem atau kerusakan dalam pesawat, merokok justru meningkatkan kegelisahannya. Jika mengantuk, merokok dapat mengatasi, tetapi dengan konsekuensi yang membahayakan.


Dikutip dari : dr. Rakhmat / Medical – BP Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar